8 Juli 2025
Penulis: Arman Seli
PU’U Ntana atau yang dalam penyebutan sehari-hari sebagai Puntana adalah sebuah kampung di dataran tinggi Sulawesi Tengah. Secara administrasi tercatat sebagai bagian dari Desa Powelua, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala.
Kini, Puntana dihuni sekitar 16 kepala keluarga. Jumlah kepala keluarga kerapkali berubah, karena adanya perpindahan dari kampung ke kampung yang masih masuk dalam wilayah adat Nggolo.
Di satuan mukim itu terdapat rumah-rumah panggung berukuran kecil dan saling berdekatan. Dindingnya terbuat dari sompe (bambu yang dianyam). Kemudian atap menggunakan daun sagu. Ada juga yang menggunakan seng. Kebiasaan berpindah-pindah masih menjadi bagian hidup masyarakat di tempat ini.
Orang Puntana hidup damai dan penuh kekeluargaan. Ekspresi ramah selalu terpancar di wajah mereka saat menyambut orang yang berkunjung. Jangankan orang dewasa, anak-anak pun berkunjung ke tempat itu akan dilayani dengan baik.
Di satu waktu, Mepopo, seorang warga setempat, dalam bahasa Unde mengatakan, ”Ane mabote se’i, mau ngana unde mamate.”
Jika diartikan dalam bahasa “Walaupun hanya anak-anak yang datang ke sini, tidak akan mati.” Makna dari pernyataan itu adalah bahwa siapapun yang datang ke Puntana akan merasa aman dan nyaman tanpa gangguan.
Orang-orang Pu’u Ntana secara garis besar bentuk fisiknya, tubuh dan warna kulit, tidak ada perbedaan menonjol dengan kelompok masyarakat lainnya yang bermukim di Kaki Gunung Kamalisi (Gawalise). Hanya saja kelompok masyarakat di wilayah ini memiliki beberapa bahasa pengantar dalam percakapan sehari-hari yang berbeda. Seperti bahasa Da’a, Inde, dan bahasa Tado.
Di Puntana sendiri, masyarakatnya adalah penutur bahasa Unde. Walaupun demikian, beberapa bahasa tersebut banyak kesamaan kosa kata.
Migrasi Lokal dan Genealogi Orang Puntana
Berdasarkan pengakuan Mebune, orang tua mereka berasal dari Volau, Peropu dan Bolonggima. Peropu adalah wilayah adat yang kini menjadi bagian dari Kabupaten Sigi, Sulawesi tengah. Orang-orang Peropu lainnya kini bermukim di Dusun Batambaya, Desa Kalora, Kabupaten Sigi.
Sementara orang-orang Bolonggima kini mendiami lingkungan Salena, Kelurahan Buluri, Kecamatan Palu Barat atau sekarang Kecamatan Ulujadi, Kota Palu.
Dua Kelompok besar ini memiliki kedekatan keluarga. Antara Bolonggima dan Peropu. Kebiasaan berladang secara tradisional membuat masyarakat ini seringkali berpindah-pindah.
Mebune juga menjelaskan, pemukiman Puntana sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
“Nasaemo totua neto’o se’i, maghiamo satu mpundena,” kata Mebune yang artinya, “Sudah lama orang tua mendiami tempat ini, sekitar seratus tahun yang lalu.”
Hal ini juga dibuktikan oleh sebuah makam leluhur (Dayo Madika Langa) yang diakui sebagai totua di tempat itu.
Artinya, persebaran orang-orang Bolonggima ke Puntana sudah terjadi ratusan tahun yang lalu dan secara kewilayahan adat, Pu’u Ntana adalah bagian dari wilayah adat Nggolo.
Nggolo juga merupakan penyebutan lain orang-orang Bolonggima dan Puntana. Bahkan masyarakat yang bermukim di Dusun Sintulu, Desa Lumbumamara, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala juga mengatakan bahwa mereka berasal Bolonggima. Selain itu beberapa orang yang bermukim di Doriamporanggu, Desa Salungkaenu juga mengatakan bahwa mereka berasal dari Bolonggima.
“Kami juga orang Bolonggima,” ungkap Ima, warga kampung Doriamporanggu.
Jika merujuk keterangan Mebune, mereka yang mendiami Puntana saat ini adalah orang Bolonggima yang bermigrasi ke Puntana ratusan tahun yang lalu.
Beberapa penjelasan narasumber cukup menggambarkan persebaran orang Puntana. Hal itu secara sederhana bisa memberikan jawaban terkait asal-usul orang Puntana dalam pendekatan silsilah atau genealogi.
Merujuk pada kampung-kampung kecil yang disebutkan di bagian sebelumnya, mereka memiliki entitas besar yang sama.
Perpindahan mereka dari Bolonggima ke Puntana, Sintulu dan Doriamporanggu merupakan ruang jelajah yang mereka sebut dengan Wilayah Adat Nggolo.
Menelusuri Bahasa Maya di Kampung Puntana
Bahasa Maya atau bahasa Mpopali, Mpokato adalah bahasa yang digunakan saat nokato (panen padi ladang).
Sebelum lebih jauh membahas bahasa Maya, Noha, warga Puntana menjelaskan, saat menanam padi ladang, mereka tidak menggunakan pupuk kimia.
“Pada saat menanam, diawali oleh totua juga secara simbolis dan selanjutnya diikuti oleh para peladang lainnya. Totua yang menanam disebut topantilovu, nantilovu yang diawali dengan doa,” tutur Noha.
Menurut Noha, dalam berbagai aktivitas mereka, mimpi menjadi penanda baik atau buruknya tempat yang dijadikan lokasi berladang. “Ada harapan, selalu diberikan ko’o vuku (kesehatan) oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” terang Noha.
Ia juga menjelaskan kosa kata dalam bahasa Maya saat panen padi ladang. Seperti: mokato, nompundu (panen padi ladang), do’i (bakul), punde (padi ladang), obo (rumah atau gubuk), bisa (air), dantoko (lesung), ntomaleungu (alu), modompu (memasak), manji’o (makan), ronto (sarung), nomongo (bersirih), pose (jagung), daula (lantai), naku’u pompeno (mengantuk), mompiirimo (tidur), kayavu (kapur), mongo (pinang), tosado (tembakau), dan todoli (kelapa).
Menurutnya masih banyak kosa kata dalam bahasa Maya, termasuk konteks kalimat saat bertutur. Misalnya, peteda riobo (masuk ke rumah) biasa digunakan untuk mengajak seseorang masuk ke dalam rumah. Bahkan menyapa seseorang atau sekelompok orang dan mengajaknya untuk singgah di rumah. Selanjutnya, kamai manji’o (mari makan) seringkali digunakan untuk mengajak orang atau sekelompok orang untuk makan bersama.

