Rencana pembukaan tambang emas di Kabupaten Sinjai kembali memunculkan kekhawatiran Masyarakat Adat Barambang Katute. Wilayah yang selama ini menjadi sumber kehidupan melalui pertanian, perkebunan, peternakan, serta kawasan hutan dan mata air kini menghadapi ancaman eksploitasi.
Bagi Masyarakat Adat, tanah bukan sekadar ruang untuk dieksploitasi. Tanah adalah ruang hidup yang menyimpan sejarah, pengetahuan leluhur, dan menjadi penopang kehidupan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Dalam edisi Monolog Anthropocelebes kali ini, Mannang, Pemuda Adat asal Sinjai sekaligus Dewan Pemuda Adat Nusantara Region Sulawesi, membacakan laporan mengenai penolakan Masyarakat Adat Barambang Katute terhadap rencana pertambangan emas, sekaligus menyampaikan refleksinya tentang pentingnya menjaga wilayah adat dari ancaman industri ekstraktif.
🎙️ Dengarkan monolog ini dan pahami mengapa perjuangan Masyarakat Adat bukan hanya tentang mempertahankan tanah, tetapi juga melindungi hutan, sumber air, budaya, dan masa depan bersama.

