8 Juni 2025
“Jika masyarakat mengenal dan memahami komunitasnya, maka akan mudah juga mengidentifikasi ancaman, baik dari dalam maupun luar.”
Penulis: Arman Seli
PENGURUS Kampung (PKam) Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Nggolo bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kamalisi, mendampingi mahasiswa Universitas Indonesia yang melakukan riset biocultural di Komunitas Adat Nggolo, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Komunitas Adat Nggolo meliputi, Lingkungan Salena, Kelurahan Buluri, Kota Palu, kemudian Dusun Sintulu, Desa Lumbumamara, Pemukiman Pu’u Ntana, Desa Powelua dan Dusun Doriamporanggu, Desa Salungkaenu.
Riset ini dimulai 11 April hingga 5 Juni 2025 dan terlaksana atas kerja sama Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) Nasional dengan Universitas Indonesia melalui program Magang, Merdeka Belajar, Belajar Merdeka. Kemudian dalam kerja-kerja di lapangan melibatkan BRWA Sulteng, AMAN Kamalisi dan PKam BPAN Nggolo.
Program ini diikuti oleh Debora Ivanna Marcelina dan Muhammad Izzuddin dari Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), UI serta Nisrina Nur Azizah dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Indonesia.
Ketiga mahasiswa yang melakukan penelitian menuturkan jika mereka menikmati banyak kesan. Diakui, ada hal-hal menarik dari Komunitas Adat Nggolo, termasuk bagaimana masyarakat adat Nggolo memahami ruang hidup, hak atas tanah dan menjaga tradisi.
Mereka juga mengaku sangat senang karena bisa juga mendapatkan pengalaman baru selama berada di komunitas adat ini.
Debora, salah satu periset mengatakan, cerita yang menarik selama melakukan riset di Wilayah Adat Nggolo adalah pengalaman pergi serta tinggal di kampung yang berbeda-beda.
Meskipun mendatangi wilayah dengan identitas yang sama setiap kampung, namun menurutnya memberikan pengalaman yang berbeda bagi dia dan teman-temannya.
“Hal ini juga berpengaruh terhadap medan yang kami tempuh. Ada kampung yang bisa dengan nyaman kami datangi menggunakan mobil seperti Salena dan Sintulu. Di sisi lain, kami harus menempuh perjalanan 7.5 jam dengan berjalan kaki untuk mencapai Pu’u Ntana,” tutur Debora.
Menurut dia, setiap kampung di komunitas adat yang mereka jumpai memiliki dinamika yang sangat beragam. Salena memberikan pengalaman pertama untuk mengunjungi tempat wisata paralayang.
Wisata paralayang ini memberikan pengalaman yang berbeda bagi setiap masyarakat di sana, sehingga terjadi keberagaman perspektif.
Sebagai mahasiswa antropologi, Debora banyak mengamati fenomena dan fakta yang terjadi di komunitas adat. Misalnya di Sintulu, dirinya melihat bahwa sungai yang dekat dengan pemukiman bisa menjadi peluang dalam mencari rezeki.
Sementara itu, di Pu’u Ntana atau Puntana memiliki sistem kepemilikan komunal yang sangat kental. Masyarakat menganggap segala sesuatu adalah milik bersama. Mulai dari hal-hal kecil seperti makanan ringan, hingga tanah yang mereka tempati.
Sebagai mahasiswa antropologi, Debora juga melihat akan ada begitu banyak tantangan yang dihadapi masyarakat di masa yang akan datang.
Masyarakat harus terus mengenal komunitas dan wilayah yang mereka miliki.
“Seperti pepatah, ‘Tak kenal maka tak sayang’. Hal itu juga yang mungkin terjadi apabila masyarakat tidak mengenal identitas mereka sebagai masyarakat adat Nggolo. Jika masyarakat mengenal dan memahami komunitasnya, maka akan mudah juga mengidentifikasi ancaman, baik dari dalam maupun luar. Terlebih dengan status wilayah yang masih termasuk dalam kawasan hutan lindung,” tutup Debora.

Memperkuat Masyarakat Adat Nggolo
Afid, PKam BPAN Nggolo, bersyukur atas riset yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Indonesia di wilayah adat mereka.
Karena kegiatan ini membantu memperkuat proses mendorong pengakuan dan perlindungan masyarakat adat Nggolo di pemerintahan.
“Saya sebagai anggota komunitas adat di wilayah adat kami, mengapresiasi semangat kawan-kawan mahasiswa dan kami merasa terbantu dengan program magang ini,” kata Afid.
Menurutnya, kemampuan mahasiswa beradaptasi di tengah masyarakat membuat penelitian ini berjalan dengan baik.
“Mahasiswa cepat menyesuaikan dengan warga. Hal itu mempermudah komunikasi mereka,” ungkap Afid.
Dirinya juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat bersama Pemerintah Desa Lumbumamara dan Salungkaenu, serta Powelua dan Buluri, karena menerima mahasiswa magang riset biocultural dengan baik.

