17 Juni 2025
Penulis: Arman Seli
NOKESO merupakan sebuah ritual untuk anak perempuan menjelang remaja maupun dewasa. Tradisi ini digelar sebagai wujud penghormatan dan perlindungan terhadap perempuan di suku Kaili.
Hingga kini, Masyarakat Adat Kaili, subetnik Unde di Salena atau Komunitas Adat Nggolo, Kota Palu masih mempraktikkan ritual ini.
Tidak ada kitab atau teks kuno yang menjadi referensi, tak ada pendekatan filologi maupun tekstologi. Ritual nokeso dititipkan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan.
Dalam pendekatan bahasa, nokeso berarti proses ritual sementara terjadi dan nikeso berarti sudah dilakukan (lampau) kemudian mokeso belum terjadi (masih direncanakan).
Nokeso sebagai simbol bahwa anak perempuan akan bertumbuh remaja dan dewasa, hal itu menjadi penanda bahwa dirinya tidak bisa lagi diperlakukan seperti anak balita.

Lelaki dewasa tidak bisa memperlakukannya seperti anak-anak yang belum bertumbuh dewasa. Jika dilanggar secara adat, konsekuensinya ‘Nikoni Nuada’, yang bersangkutan diberi sanksi adat (givu). Itulah yang membedakan anak perempuan yang sudah melalui ritual tersebut.
“Patamba’a ngana nikeso pangane bo’i naghia notalili vunja naghia unde, Nosisala vatina”
“Hari ini ada empat anak yang mengikuti ritual nokeso. Ada yang mengelilingi bambu kuning, ada pula yang tidak. Adatnya berbeda-berda,” kata Manda, warga Salena usai melakukan ritual nokeso, Senin 16 Juni 2025.
Menurut Manda, anak perempuan yang sudah menjalani ritual, hak-haknya sebagai perempuan akan dilindungi secara adat. Misalnya dalam hal pernikahan dan lainnya.

Adapun beberapa istilah dalam ritual nokeso. Pertama, toniasa. Toniasa adalah penyebutan anak perempuan yang melalui atau akan menjalani ritual nokeso, akan dihiasi dengan berbagai pernak-pernik lokal. Misalnya tali boko (pengikat kepala), moka (baju adat), ale (pengikat kepala dari tali hutan yang dianyam), kemudian mesa (kain berukuran panjang ) dibentangkan mengelilingi bolo vatu (rumpun bambu) yang diikat katupa (ketupat).
Sementara, yang diikat di depan pintu tempat toniasa turun adalah nta’u nggaluku (daun kelapa), balo (potongan rumpun bambu) berukuran sekitar 20 cm dan padale njambulu (pinang).
Istilah kedua adalah langgai ntoniasa. Langgai ntoniasa adalah seorang lelaki dewasa yang posisinya berada di paling depan dan mengelilingi bolo vatu sebanyak tujuh kali. Pada saat mengelilingi harus menginjak nta’u kamonji (daun sukun) dan palapa nusambulu (pelepah pinang). Di sebelah kanan langgai ntoniasa diikatkan parang. Di tangan kanannya memegang bolo vatu yang diatur sedemikian rupa kemudian ada uvi, sejenis alang-alang yang berisi daging kambing (mirip sate).
Istilah selanjutnya, uma nuvati. Uma nuvati adalah seorang totua (pemimpin ritual) yang memiliki pengetahuan tentang nokeso, yang tugasnya adalah memastikan ritual ini berjalan sebagaimana mestinya dan sesuai adat keluarga. Uma nuvati akan memohon kepada leluhur dan Sang Maha Pencipta, agar kelak toniasa akan diberikan kesehatan dan umur yang panjang dalam menjali kehidupannya.

